Kolom Juara R. Ginting: Unjuk Rasa -- Kesenjangan Kaum
"Melihat sesuatu yang tidak terlihat dengan manganalisis fakta-fakta yang terlihat" adalah yang saya lakukan dalam menyimpulkan apa sebenarnya yang terjadi d…
"Melihat sesuatu yang tidak terlihat dengan manganalisis fakta-fakta yang terlihat" adalah yang saya lakukan dalam menyimpulkan apa sebenarnya yang terjadi dalam peristiwa unjuk rasa beberapa hari ini di Indonesia. Ada yang mengatakan unjuk rasa ini digerakkan oleh asing atau kekuatan-kekuatan lain, tapi semuanya tidak terlihat alias belum bisa dibuktikan.
Itu bukan fakta yang menjadi bahan analisis saya.
Fakta-fakta yang terlihat dengan jelas dari pemberitaan-pemberitaan yang memicu unjuk rasa adalah ketidaksetujuan atas kenaikan tunjangan-tunjangan yang didapat oleh DPR RI ditambah pula berita tayangan televisi nasional dan video-video di youtube yang memperlihatkan para anggota DPR RI menyambut gembira pengumuman kenaikan tunjangan itu dengan berjoget.
Selanjutnya pernyataan Ahmad Sahroni yang mengatakan tuntutan pembubaran DPR diajukan oleh orang-orang tolol.
Semua itu mencapai puncaknya ketika seorang pekerja Ojol meninggal dunia setelah dilindas oleh kendaraan pengaman huruhara dari kepolisian.
Fakta-fakta yang terlihat itu menunjukkan adanya AKUMULASI kekecewaan terhadao DPR RI, pada penampakan pertama, lalu meluas pada bentuk kekecewaan terhadap pihak-pihak pengaman khususnya polisi.
Itulah rangkuman serangkaian fakta-fakta terlihat yang memicu protes massa melalui unjuk rasa di berbagai kota di Indonesia. Saya tidak menepis adanya kemungkinan upaya satu atau beberapa kekuatan besar yang menggerakkan unjuka rasa ini. Tapi, sekali lagi, itu belum dibuktikan kebenarannya.
Gejala akumulasi terdekat adalah, sebelum pengumuman kenaikan tunjangan-tunjangan para anggota DPR, telah terjadi penaikan pajak yang merugikan terutama kelas menengah dan perusahaan-perusahaan sehingga persoalannya merembet kepada masalah PHK yang meningkatkan jumlah pengangguran.