Gendang Karo di Tanah Borneo: Guro-Guro Aron sebagai Jangkar Identitas Diaspora
Di sebuah ballroom hotel di Ketapang, Kalimantan Barat, komunitas Karo merayakan Gendang Guro-Guro Aron bertema 'Mburo Ate Tedeh Nandangi Kuta Kemulihen' — kerinduan pada kampung halaman yang berubah menjadi pernyataan identitas.
Masyarakat Karo yang tergabung dalam Perpulungen Marga Silima Ketapang menggelar Gendang Guro-Guro Aron di Cemara Room Hotel Borneo Emerald, Jalan Dr. Sutomo, dengan tema "Mburo Ate Tedeh Nandangi Kuta Kemulihen" — kerinduan pada kampung halaman. Novita br Barus menyanyikan rende di bawah lampu ballroom, sementara pasangan-pasangan muda bergantian landek seperti yang dilakukan nenek moyang mereka di ladang-ladang Berastagi. Okky Ginting dan Bona Pasogit Siregar mengalunkan musik yang sama, meski buminya berbeda.
Guro-Guro Aron lahir dari aron — kelompok kerja muda-mudi Karo di sawah — sebagai cara melepas lelah bersama lewat tari dan nyanyian. Di perantauan, fungsinya bergeser: dari perayaan panen menjadi penanda bahwa identitas Karo masih hidup, jauh dari air terjun Sipiso-piso. Sepanjang 2026, gendang ini juga terdengar di Lau Cimba (1–2 Januari), Desa Ajibaho di Deli Serdang (April), hingga Tigalingga — masing-masing komunitas diaspora merawat tradisi yang sama dengan tangan yang berbeda.
Budaya Karo tidak tinggal di peta. Ia ikut bepergian.