Gendang Karo di Tanah Borneo: Guro-Guro Aron sebagai Jangkar Identitas Diaspora
Di sebuah ballroom hotel di Ketapang, Kalimantan Barat, komunitas Karo merayakan Gendang Guro-Guro Aron bertema 'Mburo Ate Tedeh Nandangi Kuta Kemulihen', yang berarti rindu yang dalam untuk pulang ke kampung halaman, kini menjelma jadi pernyataan identitas.
Di sebuah ballroom hotel di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 17 Januari 2026, terdengar dentingan keyboard dan entakan gendang, bukan dari panggung Tanah Karo, melainkan dari jantung Borneo.
Masyarakat Karo yang tergabung dalam Perpulungen Marga Silima Ketapang menggelar Gendang Guro-Guro Aron di Cemara Room Hotel Borneo Emerald, Jalan Dr. Sutomo, dengan tema "Mburo Ate Tedeh Nandangi Kuta Kemulihen", yang berarti rindu yang dalam untuk pulang ke kampung halaman. Novita br Barus menyanyikan rende di bawah lampu ballroom, sementara pasangan-pasangan muda bergantian landek seperti yang dilakukan nenek moyang mereka di ladang-ladang Berastagi. Okky Ginting dan Bona Pasogit Siregar mengalunkan musik yang sama, meski buminya berbeda.
Guro-Guro Aron lahir dari aron, kelompok kerja muda-mudi Karo di sawah, sebagai cara melepas lelah bersama lewat tari dan nyanyian. Di perantauan, fungsinya bergeser: dari perayaan panen menjadi penanda bahwa identitas Karo masih hidup, jauh dari air terjun Sipiso-piso. Sepanjang 2026, gendang ini juga terdengar di Lau Cimba (1–2 Januari), Desa Ajibaho di Deli Serdang (April), hingga Tigalingga, masing-masing komunitas diaspora merawat tradisi yang sama dengan tangan yang berbeda.
Budaya Karo tidak tinggal di peta. Ia ikut bepergian.