Tujuh Ratus Orang, Satu Marga: Ginting Merawat Identitas Karo di Lampung — Sorasirulo
← Beranda

Tujuh Ratus Orang, Satu Marga: Ginting Merawat Identitas Karo di Lampung

Di Gedung GSG Cio Cio Bandar Lampung, 700 anggota Persadaan Ginting Mergana se-Lampung berkumpul selama dua hari — bukan sekadar reuni keluarga, melainkan mekanisme transmisi budaya Karo yang bekerja diam-diam di luar Tanah Karo.

Di Gedung GSG Cio Cio, Bandar Lampung, Sabtu 28 Maret, tujuh ratus orang berdiri ketika gendang mulai dipukul — hampir semuanya menanggapi satu nama: Ginting.

Persadaan Ginting Mergana se-Lampung menggelar acara dua hari, menghadirkan artis dari Medan, barisan anak beru, dan perempuan-perempuan berbusana uis nipes yang bergantian landek seperti nenek moyang mereka di ladang-ladang Berastagi. Peserta datang dari berbagai kota di Lampung — bukan atas undangan negara, bukan agenda pariwisata, melainkan atas panggilan jaringan klan yang bekerja diam-diam sejak marga Ginting menyebar jauh dari Tanah Karo.

Di perantauan, Persadaan — asosiasi marga — adalah infrastruktur budaya yang tidak tercatat di peta resmi mana pun. Ginting, Tarigan, Sembiring, Karo-Karo, Perangin-angin: lima marga utama Karo masing-masing mengelola jaringan serupa dari Lampung hingga Kalimantan, dari Jabodetabek hingga Kutai Timur. Ketika tidak ada gedung kebudayaan resmi, klan yang jadi tempatnya — dan anak-anak muda yang hadir malam itu belajar lebih banyak dari satu sesi landek daripada dari satu semester pelajaran budaya di sekolah.

Tujuh ratus orang pulang dari Bandar Lampung membawa ingatan yang tidak ditulis di buku teks mana pun.