Tiga Masakan, Satu Warisan: Pelajar Karo Pergi ke Dapur dan Pulang Membawa Lebih — Sorasirulo
← Beranda

Tiga Masakan, Satu Warisan: Pelajar Karo Pergi ke Dapur dan Pulang Membawa Lebih

Pada 8 Maret 2026, siswa-siswi SMP dan SMA dari Berastagi dan Kabanjahe bersaing memasak Tasak Telu di Lapangan Samura sebagai bagian dari HUT Kabupaten Karo ke-80 — membuktikan bahwa hidangan upacara adat Karo kini juga diwariskan melalui kompetisi, bukan hanya dari dapur ke dapur.

Di Lapangan Samura, Kabanjahe, pada 8 Maret 2026, seorang siswa SMP mengangkat wajan berisi ayam kampung, daun ubi, dan parutan kelapa — dan tanpa disadarinya, ia sedang menyentuh sesuatu yang lebih tua dari kabupaten yang hari itu merayakan ulang tahunnya yang ke-80.

Lomba Kuliner Tasak Telu digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Karo ke-80. Pesertanya bukan juru masak senior atau perempuan-perempuan tua penjaga resep leluhur — melainkan pelajar dari sekolah-sekolah di Tanah Karo yang ditantang merekonstitusi hidangan yang secara tradisi hanya muncul di meja pesta pernikahan dan upacara adat. Tasak Telu — dalam bahasa Karo berarti "tiga masakan" — terdiri dari tiga komponen yang disiapkan terpisah lalu disajikan bersama: ayam kampung beserta darah dan jeroannya, daun ubi, dan parutan kelapa, semuanya diberi karakter oleh andaliman, sereh, dan cabai rawit segar dalam takaran yang membuat cita rasanya sekaligus pedas, aromatik, dan tak bisa dipalsukan.

SMP Negeri 1 Berastagi keluar sebagai juara pertama. SMA Negeri 2 Kabanjahe meraih tempat kedua. SMA Methodist Berastagi berdiri di posisi ketiga. Dewan juri terdiri dari Juli Beru Surbakti, praktisi kuliner; Abdi Sembiring dari Forum Kebudayaan Kabupaten Karo; dan Hesron Pinem, seorang gastronom. Hari yang sama, di lapangan yang sama, Pemkab Karo membagikan 26.000 porsi makanan tradisional Karo secara gratis — jumlah yang terasa lebih seperti pernyataan kolektif dibanding sekadar keramahtamahan ulang tahun.

Yang membuat lomba ini berbeda dari upaya dokumentasi budaya biasa adalah siapa yang memasak. Tasak Telu secara tradisional disiapkan dalam konteks seremonial — ia bukan menu sehari-hari, melainkan penanda momen penting. Ketika siswa-siswi SMP dan SMA berdiri di depan api dan menguasai komposisi andaliman dengan benar, yang sedang terjadi bukan sekadar lomba masak. Itu adalah transmisi pengetahuan yang tidak pernah tercatat dalam kurikulum mana pun — ditransfer bukan lewat buku teks, melainkan melalui aroma, rasa, dan tangan yang berlatih.

Hidangan yang dulu menandai rites of passage kini juga menjadi rites of learning — dan mungkin keduanya tidak pernah benar-benar berbeda.