Semangat Baru Pelestarian Budaya Karo: Dari Panggung Kampus hingga Lapangan Kota — Sorasirulo
← Beranda

Semangat Baru Pelestarian Budaya Karo: Dari Panggung Kampus hingga Lapangan Kota

Dua peristiwa budaya Karo berlangsung hampir bersamaan pada akhir Mei dan awal Juni 2026 — Ethno Culture Fest USU dan Pesta Budaya Karo di Binjai — sama-sama mengirim pesan bahwa generasi muda kini tampil sebagai garda terdepan pelestarian identitas Karo.

Dua peristiwa budaya penting berlangsung hampir bersamaan pada akhir Mei dan awal Juni 2026, mengirimkan sinyal kuat bahwa budaya Karo tengah memasuki babak baru perjuangan identitas.

Pada 25–26 Mei 2026, mahasiswa Program Studi Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar Ethno Culture Fest 2026 bertema "Nada, Gerak, dan Jiwa Sumatera Utara". Festival yang diselenggarakan di kampus USU, Medan, ini menampilkan pertunjukan musik tradisional dan tari etnik dari tujuh suku Sumatera Utara — Melayu, Mandailing, Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, dan Nias. Di tengah kemeriahan itu, budaya Karo hadir sebagai salah satu pilar dalam mosaik keberagaman Sumut yang kini dijaga oleh generasi muda akademisi.

Tak lama berselang, pada Sabtu 6 Juni 2026, masyarakat Karo di Binjai menggelar Pesta Budaya Karo "Mbure Ate Tedeh" di Lapangan Merdeka Kota Binjai. Acara yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota Binjai ini menampilkan adat, seni, dan kekayaan budaya Karo dalam suasana kebersamaan yang hangat. Sekretaris Daerah Kota Binjai, mewakili Wali Kota, menegaskan bahwa pesta budaya ini bukan sekadar ajang silaturahmi untuk melepas rindu — atau mbure ate tedeh dalam bahasa Karo — melainkan juga "benteng pertahanan budaya bagi generasi muda agar tidak kehilangan identitasnya" di era globalisasi.

Yang menarik dari kedua momen ini adalah pergeseran makna yang terjadi secara diam-diam. Jika dulu pelestarian budaya sering dipahami sebagai tanggung jawab para sesepuh adat, kini tampak jelas bahwa anak-anak muda — baik mahasiswa di kampus maupun komunitas Karo di perantauan — semakin mengambil peran sebagai penjaga aktif tradisi leluhur. Ketua Marga Silima dalam Pesta Budaya Binjai mengungkapkan harapan agar kegiatan budaya Karo terus tumbuh dan berkembang sehingga warisan leluhur dapat diteruskan ke generasi mendatang.

Bagi komunitas Karo yang tersebar dari Tanah Karo hingga Binjai, Medan, dan berbagai penjuru Indonesia, momen-momen ini bukan sekadar perayaan nostalgia. Ini adalah pernyataan kolektif: bahwa bahasa, tari, musik, dan adat istiadat Karo tetap relevan, tetap hidup, dan tetap layak dirayakan — justru di tengah arus modernisasi yang paling deras sekalipun.