Songket dari Tangan yang Diam, Bicara Lewat Karya di PRSU
Empat siswa tunarungu SLB Negeri Batu Bara menenun songket yang laku dijual di Pekan Raya Sumatera Utara 2026, membuktikan keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Ada satu sudut di Pekan Raya Sumatera Utara yang bikin pengunjung berhenti melangkah, bukan karena iba, karena kagum.
Di Hall Dinas Pendidikan Sumut, Jalan Gatot Subroto Medan, empat siswa tunarungu dari SLB Negeri Batu Bara menenun songket dengan tangan mereka sendiri, helai demi helai, sampai jadi kain rapi yang bernilai seni tinggi. Kamis malam, 16 Juli 2026, kain-kain itu laku dijual, empat lembar terjual seharga sekitar Rp450 ribu, atau Rp550 ribu kalau lengkap dengan selendangnya, di antara stan-stan SMA dan SMK lain di hall yang sama. Kepala sekolah Siti Maryam bilang, sekolahnya bukan cuma tempat belajar. Dengan sekitar 200 siswa, mulai dari tunarungu, disabilitas intelektual, sampai delapan anak autis, sekolah ini jadi ruang aman buat mereka tumbuh, berinteraksi, dan menemukan kemampuan masing-masing lewat cara sendiri, sampai berani memamerkan hasil karyanya di depan orang banyak.
Kain songket itu mungkin cuma seharga dua kali makan di kafe. Tapi buat yang menenunnya, itu bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang orang lain rela bayar, lalu pakai dengan bangga.
Sumber: Koran Medan, ArmadaBerita.com