Skip to toolbar

Kolom Andi Safiah: INI RANAH PERSONAL

0 0
Read Time:2 Minute, 32 Second

Kalau pinjam logika positivism, Tuhan itu tidak ada makna real sama sekali. Makanya term Tuhan lebih cocok masuk dalam ranah opini. Siapa saja bisa membangun opini soal Tuhan suka-suka otak dia. Bahkan, ketika sudah berusan dengan term “Tuhan”, ada banyak istilah untuk menggambarkan term tersebut.

Ada yang percaya Tuhan itu ada dan ada juga yang malah tidak ingin berurusan dengan term Tuhan.

Mereka yang tidak mau berusan dengan term Tuhan biasanya sering dicap Atheists atau paling dekat Agnosticism. Padahal secara definisi Atheists atau agnosticism itu adalah soal “tidak mau percaya” pada hal-hal yang tidak dipahami dan salah satu konsep yang paling sering dijadikan alat debat adalah konsep Tuhan.

Bahkan ketika kita bertanya pada mereka yang “bertuhan” apa itu Tuhan, mereka sendiri kebingungan dalam mendefinisikan Tuhan. Karena basisnya konsep Tuhan memang “membingungkan”. Itulah alasan mengapa ketika seseorang yang berusaha menggunakan akalnya mengajukan pertanyaan soal eksistensi Tuhan sering kali dipahami sebagai “penyakit berbahaya”.

Bahkan di era philosopher Gereja Katolik seperti St. Thomas Aquinas merekomendasikan agar mereka yang tidak percaya pada Tuhan macam para Atheists, Unbeliever, Agnosticism, diusulakan agar dibungkam lewat cara-cara yang mengerikan yaitu kematian.

Salah satu korban paling populer dalam urusan ini adalah Giordano Bruno, seorang Philosopher yang alirannya bersebrangan dengan gereja pada saat itu. Hasilnya mati di tiang. Tangan diikat, lidahnya dipotong agar tidak brisik lalu dibakar hidup-hidup.

Padahal beliau hanya ingin menggunakan akalnya dalam urusan memahami bagaimana alam semesta ini bekerja. Beliau tidak mau percaya pada otoritas apapun karena percaya bahwa mencari tau lewat pendekatan-pendekatan masuk akal jauh lebih menyenangkan ketimbang percaya begitu saja pada apa kata utusan Tuhan lewat otoritas agama.

Jauh sebelum St. Thomas Aquinas seorang Philosopher king seperti Plato juga pernah berargumen bahwa orang-orang yang berpaham Atheists sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat. Uuntuk itu mereka harus disingkirkan dengan cara yang sama, yaitu dikirim ke alam Ghaib alias Mati.

Sejarah masa lalu manusia terutama mereka yang berpaham Atheists atau non believer memang tragis. Beruntung sekali 500 tahun yang lalu peradaban manusia dihinggapi oleh penyakit mencerahkan yang bernama “revolusi scientific”. Dengan begitu, hal-hal yang biasa dilakukan oleh otoritas agama yaitu membunuh mereka yang pake akal, sudah tidak publik lagi.

Mungkin mereka sudah malu karena memang apa yang dulu mereka percaya selama ribuan tahun dibantah oleh para ilmuan macam Copernicus atau Galileo sebagai sebuah kesalahan fatal. Dan mereka-mereka yang sudah jadi korban atas kesalahan fatal tersebut tidak tertarik untuk balas dendam.

Mereka malah semakin bersemangat untuk melanjutkan kerja-kerja independen dari pada ilmuan atau Philosopher beraliran naturalis dalam menjawab beragam misteri alam semesta tanpa repot-repot melibatkan Tuhan.

Hasilnya bisa kita periksa secara akurat saat ini. Karena merekalah beragam aliran ketidakpercayaan seperti Atheistic bisa berjalan bebas. Bahkan di negara seperti China jumlah mereka cukup significant.

Menurut saya, selama dia Manusia, mau percaya atau tidak percaya pada Tuhan itu sah-sah saja. Kita tidak perlu repot memaksakan kepercayaan kita pada siapapun. Ranah “percaya” atau “tidak” itu bukan ranah publik, tapi ranah personal.

#ItuSaja!

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: