Skip to toolbar

Kolom Andi Safiah: MENJADI HANTU DALAM PIKIRANMU

0 0
Read Time:2 Minute, 16 Second

Kalau menjadi Caleg DPR RI terus saya diminta menyerahkan uang dalam jumlah fantastik, maka saya akan memilih profesi tukang parkir profesional. Itu jauh lebih realistik dan tidak merugikan siapapun. Tapi, saya bersemangat karena PSI sebagai partai baru memilih melakukan seleksi terbuka pada Calegnya dan itu juga diumumkan secara terbuka.

Inilah yang membuat saya memilih berjuang bersama PSI untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Sebelumnya otak saya sangat menolak jenis partai politik apapun yang pernah eksis di Indonesia kecuali PKI yang dibubarkan secara paksa oleh Rezim Orba hanya karena mereka takut PKI akan menghabisi semua jenis tahayul dalam otak manusia Indonesia.

Lewat PSI yang selalu dicap remeh oleh banyak pihak, saya melihat ada harapan baru dalam perpolitikan Indonesia, dimana hal-hal yang berbau “busuk” dipertanyakan. PSI juga lebih punya sikap dalam banyak hal, terutama soal-soal intoleransi dan bagaimana pluralitas Indonesia tetap dipertahankan.

Issue-issue agama lewat kebijakan Perda dipertanyakan. Hingga menolak dominasi laki-laki lewat praktek poligami yang jelas merugikan perempuan.

Hal-hal seperti di atas yang membuat saya bersemangat ingin menyumbangkan waktu dan hidup saya. Pkiran-pikiran saya untuk Indonesia. Walaupun itu acap kali di cap utopia dan mengada-ngada bagi mereka yang hidupnya terjebak dalam tempurung Egi eh Ego.

Secara pribadi, saya sudah menghabiskan banyak waktu belajar dari negara-negara yang memang kampium dalam Demokrasi. Sebut saja US. Hampir separuh hidup saya habiskan di sana untuk bekerja dan belajar. Melihat dari dekat bagaimana gaya hidup Rakyat Amerika secara langsung. Perbedaan mencolok saya temukan ada di “Hard Working People”.

Di sini kita begitu dimanja oleh alam, sehingga mental kita rapuh. Berbeda sedikit saja langsung berkelahi dengan gaya bebas. Di sana, tidak ada perkelahian di atas perbedaan pendapat. Jarang terjadi. Apalagi beda pendapatan, mereka punya cara sendiri dalam menjawab persoalan dengan cara apa ya Up Grade, get you as off and go to work.

Jelas mentalitas begini jarang kita lihat di sini. Yang saya temukan mereka sibuk menunjukkan siapa mereka “show off” dan paling doyan mengkerdilkan orang lain di atas alasan status pendapatan maupun pendapat.

Mungkin inilah yang dipahami oleh Jokowi sebagai presiden. Lalu, muncul yang namanya konsep Revolusi Mental. Tapi itu jelas rumit karena mentalitas bangsa kita bukan mentalitas sportif, mentalitas bangsa kita adalah suka berdiri di atas penderitaan orang lain.

Kalau mau Revolusi Mental, tidak ada pilihan lain kecuali membongkar total Kurikulum Pendidikan Nasional dan contohlah kurikulum negara-negara macam Jepang atau Swedia. Ajarkan generasi bangsa ini bagaimana bersikap apresiatif bukan penindas macam kolonialisme Abad ke 19.

Intinya simpel, jangan halangi jalan mereka yang berbeda dengan jalan hidupmu dan jangan memaksakan diri jika kamu memang tidak mampu seperti mereka yang selalu menjadi hantu dalam pikiranmu.

#Itusaja!

Watch this video on YouTube.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Andi Safiah: MENJADI HANTU DALAM PIKIRANMU

  1. “Ajarkan generasi bangsa ini bagaimana bersikap apresiatif bukan penindas macam kolonialisme Abad ke 19.”

    Wow, apresiatif, apresiatif . . . teringat dan tersentuh dengan kebiasaan tradisional/kultural orang Swedia yang selalu lebih terdengar pujiannya dan jarang terdengar kritikan apalagi makian. Mengejek sangat pantang dan dianggap menghina. Dan kalau juga terjadi, langsung diikuti dengan permintaan maaf dengan kerendahan hati dan penyesalan. Kebiasaan ini sepertinya sudah melekat dalam darah daging bangsa ini. Telah diajarkan atau tepatnya bukan diajarkan sama sekali, tetapi begitulah way of thinkingnya dan way of lifenya . . . apresiasi, menghargai dan menyatakan penghargaan atas apa saja yang positif terutama yang dilakukan oleh anak-anak sejak bisa melihat dan ngomong . . . pujian terhaadap apa saja yang positif, dan . . . yang positif tidak pernah kurang! Oleh anak-anak maupun orang dewasa. Di alam maupun dimana saja, dan dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: