Skip to toolbar

Kolom Bastanta P. Sembiring: MINAK ALUN SUKU KARO

0 0
Read Time:4 Minute, 29 Second

Sudah sejak dahulu Suku Karo dikenal dengan kehebatan pengobatannya. Mulai dari  teknik pemijatan hingga ke obat-obatan yang diperoduksi. Pengobatan Suku Karo ini bukan hanya dikenal dan dipergunakan di lingkungan Suku Karo saja, tetapi sudah meluas, bahkan hingga mancanegara.

Kalau kam tak percaya, silahkan datang ke kampung saya di Patumbak (Deliserdang, Sumut) atau Karo Hilir. Di sana masih ada beberapa guru (sebutan untuk dukun Karo), dan salah satunya kebetulan masih satu merga dengan saya (Sembiring Meliala), yang pasiennya bukan hanya dari sekitar Deliserdang dan Kota Medan saja, tetapi dari penjuru Indonesia. Bahkan dari Malaysia, Singapura, Brunai, Thailand, hingga Hongkong. Dan masih banyak lagi guru-guru Karo lainnya yang tersebar di Taneh Karo.

Pasca cederanya salah satu bintang bulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting (Ginting AS) yang juga masih berdarah Karo, dari merga Ginting Sinisuka. Salah satu obat tadisionil Karo pun ramai menjadi bahan perbincangan di media.

Ya, minak alun (minyak urut/ kusuk) khas Karo, yang katanya (menurut pengakuan ibunda Ginting AS) menjadi rahasia bangkitnya Ginting AS dari cederanya dengan cepat dan segera dapat bertanding.

Kios penjualan berbagai rempah untuk bahan ramuan obat dan upacara-upacara ritual tradisional Karo di Kabanjahe.

Minak alun Karo adalah minyak kusuk khas Suku Karo yang biasanya berbahan dasar minyak dari kelapa hijau, kemudian dimasak kembali dengan dicampur ramuan-ramuan tertentu sesuai fungsinya yang ingin dicapai oleh si peramu. Proses ini disebut dengan nangger minak (memasak minyak). Saya sendiri pun sudah beberapa kali mengikuti kegiatan nangger minak ini, baik di Patumbak, maupun di Namorambe (karena ibu saya beru Gnting dari Namorambe).

Ramuan campuran untuk dimasak dengan minyak ini bisanya disesuaikan dengan tujuan fungsi utama nantinya minyak ini, atau sesuai spesialis yang dimilki si pembuat minyak. Misalkan minyak itu nantinya oleh si penangger minak (pemasak minyak) ingin membuat miyak anti bisa ular, minyak obat luka bakar, minyak obat keram otot dan terkilir, minyak untuk menghaluskan kulit, obat luka akibat sayatan, anti tetanus, hingga ke masalah kejantanan pria. Maka ramuan-ramuan campurannya pun akan disesuaikan. Namun secara umum, semua minyak Karo berhasiat menyembuhkan luka (sayatan ataupun bakar), keram otot dan terkilir, masuk angin, menghaluskan kulit, dsb.

Ramuan untuk minyak Karo berupa rumput-rumputan, aneka dedaunan hutan, aneka bunga, biji-bijian, umbi-umbian, aneka kulit kayu, aneka jamur, getah kayu, hingga bagian-bagian tertentu tubuh hewan yang bukan anjing maupun babi. Tentunya tiap penangger minak juga punya ramuan rahasia yang khusus. Itu semua diracik sesuai dengan fungsi utamanya tadi.

Seorang remaja yang menjualkan berbagai jenis ramuan obat tradsional Karo di Pasar Tradisional Pancurbatu Karo Hilir)

Dahulu, sebelum melakukan proses nangger minak, terlebih dahulu mulungi. Mulungi ini merupakan proses pencarian bahan-bahan yang dibutuhkan ke hutan; dikumpulkan dan ipesikap (disiapkan) (dipotong, diiris, dicincang, dikupas atau dibersihkan). Namun, saat sekarang ini, di banyak daerah Suku Karo, hutan pun sudah tidak ada lagi, maka bahan-bahan itu dibeli ke tiga (pasar). Kalau di wilayah Karo Jahé (Pesisir Pantai Timur Sumatera) biasa dibeli ke Tiga Pancurbatu, Delitua, Namorambe, Talun Kenas, ataupun Tiga Juhar.

Proses memasaknya pun bisa memakan waktu yang lama, bahkan sampai seharian. Jadi ini pekerjaan yang sangat melelahkan.

Sebagai seorang pengguna aktif Minak Alun Karo, saya sangat merasakan dan melihat manfaat dan kehebatan Minak Karo ini.

Sekitar tahun 1999, saya dan orangtua berkunjung ke salah satu daerah di Provinsi Jambi. Beberapa hari di sana, ada saudara yang dipatuk ular. Kebetulan kami membawa minyak Karo Tawar Bisa (anti bisa). Nandé (ibu) lalu memberikan miyak Karo dan menyuruh korban patuk ular itu untuk melumurinnya dan menempelkan kempayang (kerak-kerak/ ampas) minyak di bekas gigitan ular tesebut. Keesokan harinnya kami dengar berita kalau korban telah sembuh.

Kasus lainnya terjadi pada diri saya sendiri. Saat sedang mengerjakan sesuatu dengan sebuah belati yang sangat tajam, jempol tangan kanan saya terkena pisau dan kulitnya terkelupas sangat dalam dan lebar. Saya langsung lari ke kamar mandi untuk bersihkan lukanya dan mencari kain bersih. Lalu, saya mengambil kempayang minyak dan menyatukan kulit yang terkelupas tadi, melumurinya dengan minyak dan membalutnya dengan kempayang, kemudian dibalut dan mengikatnya dengan erat mengunakan kain bersih tadi. 3 hari kemudian, saat saya membuka balutannya, kulit saya sudah menyatu dan hampir tidak terlihat sedikit pun bekas lukannya. Padahal sempat merasa takut karena kulit pada tangan sebelumnya sudah terlepas.

Kasus lainnya terjadi pada teman kerja turang (saudari) saya yang anaknya sudah usia 3 tahun lebih, namun jangankan berjalan, berdiri saja belum bisa. Bahkan bahasanya tidak selancar anak seusiannya. Melihat itu, turang kami berikan miyak Karo serta menyarankan agar temannya itu mengoleskannya ke badan si anak setiap selesai mandi atau mau tidur malam.

Tak lama kemudian anak itu sudah bisa berjalan. Melihat itu, teman-teman turang saya yang lainnya pun minta kalau tiap pulang kampung agar dibawakan oleh-oleh minyak Karo. Hal demikian juga terjadi pada cucu tetangga kami, yang setelah memakai minyak Karo sudah bisa berjalan, berhenti ngompol saat tidur, dan tidak rewel lagi.

Watch this video on YouTube.

Itulah beberapa kehebatan dari minyak Karo, dan masih banyak khasiat lainnya yang sudah dirasakan dan teruji ampuh mengobati berbagai keluhan. Dan perlu diingat! Minyak yang sudah disimpan lama agar dimasak kembali, agar khasiatnya pun tidak pudar.

Mejuah-juah Indonesia.

Catatan: Penulis bukan seorang guru ahli pengobatan Karo ataupun ahli medis. Hanya pecinta sekaligus penguna obat-obat tradisionil Karo. Jadi, tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman penulis (yang dirasa, didengar dan dilihat). Semoga ini dapat dilestarikan agar kelak masih dapat dirasakan generasi berikutnya.

Watch this video on YouTube.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: