Skip to toolbar

Kolom Boen Syafi’i: THE POWER OF CULTURE — Budaya Kuat Nasionalisme Meningkat

0 0
Read Time:1 Minute, 25 Second

Jokowi adalah seorang Presiden yang sangat gemar sekali menyampaikan uneg0uneg di dalam hatinya dengan menggunakan simbol. Ya, Jokowi adalah Presiden ke dua yang gemar memakai komunikasi unik ini, setelah dahulu Presiden Soeharto pernah pula menggunakannya.

Dan kemarin, di saat pementasan wayang kulit di Istana Negara, sebenarnya ada pesan tersendiri yang ingin disampaikan oleh sang Presiden terhadap Bangsa Indonesia.

Yakni, mari sama-sama merawat, memelihara serta melestarikan budaya sendiri. Selain itu pementasan wayang kulit tersebut juga menjadi sinyal kuat dari Beliau, bahwa genderang perang untuk melakukan perlawanan terhadap budaya asing (lebih-lebih yang berkedok Agama) sudah beliau tabuh dan akan segera dimulai.

Pastinya, resiko apapun akan ditempuh, meski suatu saat nanti banyak yang akan menentang kebijakannya. Ingat, tiada satupun negara di dunia ini yang mengalami kemajuan pesat di saat terlalu ekstrim, memakai idiologis Agama. Namun sebaliknya, banyak negara yang kini mengalami kemajuan pesat oleh karena mereka merawat serta mencintai peradaban budayanya sendiri.

Bukankah Bali yang justru malah didatangi oleh King Salman daripada Aceh yang telah lama berlabel syariat? Agama adalah ranah privasi masing-masing masing dari manusia. Sedangkan melestarikan budaya sudah menjadi kewajiban dari semua kalangan masyarakat, yang hidup berdampingan di dalam sebuah Negara.

Watch this video on YouTube.

Agama tidak akan bisa menyatukan sebuah bangsa yang heterogen penduduknya, tanpa adanya budaya di dalamnya. Budaya kuat maka nasionalisme pun meningkat.

Luar biasanya lagi, seorang Didi Kempot kemarin berhasil mengajak Presiden, Menteri, Kyai, Habib, Tokoh Agama sampai dengan rakyat jelata, untuk bernyanyi bersama sama. Itulah magis power dari budaya bangsa.

Namun, yang di Saudi sana diam-diam ikut menonton dan bernyanyi pula. “Sewu kuto uwis tak liwati, sewu ati tak takoni, nanging kabeh podo ra ngerteni, sok kapan aku bali?”

Nasiiibb Nasiiibbb..

Salam Jemblem..

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Boen Syafi’i: THE POWER OF CULTURE — Budaya Kuat Nasionalisme Meningkat

  1. “bahwa genderang perang untuk melakukan perlawanan terhadap budaya asing (lebih-lebih yang berkedok Agama) sudah beliau tabuh dan akan segera dimulai.” Bagus sekali artikel ini menjelaskan culture power. Perang kultur (Culture War) sudah lama dijalankan oleh ‘global power structure’, sudah ratusan tahun. Gerombolan inilah yang pertama punya pengetahuan rapi dan mantap soal culture dan power luar biasa inherent didalamnya dan dimiliki oleh tiap etnis dan tiap bangsa. Culture Power adalah salah satu dari 4 power human identity. 3 lainnya ialah kekuatan agama, kekuatan famili, dan kekuatan dalam satu nation (kekuatan bersifat nasional). 4 kekuatan utama kolektif kesatuan manusia inilah yang terus-menerus mau dihancurkan olleh global power itu unuk menuju tyrani NWO. Tanpa menghancurkan 4 kekuatan ini lebih dahulu, tidaklah mungkin bagi kaum globalis ini untuk menguasai bangsa mana saja. Dan tanpa menguasai suatu bangsa lebih dahulu, tidak mungkin menguasai semua bangsa tujuan NWO.

    Kekuatan dalam famii dihancurkan dengan porn, perkawinan homo, pendidikan anak-anak tanpa kelamin, bikin keluarga dengan ibu-bapa sejenis. Salah satu usaha utama yang aktual sekarang menghancurkan kultur satu nation ialah dengan aliran refugee yang besar-besaran, merusak kultur satu nation. Brexit adalah salah satu pencerminan perlawanan atas perusakan kultur Inggris oleh aliran besar orang asing masuk Inggris. Karena itu juga disebut Brexit adalah sebagai Culture War orang Inggris. George Soros adalah penggagas pembiaya utama aliran pengungsi ke Eropah dan ke AS.
    Menggerakkan teroris, extrimis dengan kultur arabnya di Indonesia adalah bagian yang sangat penting bagi global power ini. Pecah belah atau usaha pecah belah oleh sebagian orang-orang keturunan Arab seperti disinyalir oleh mantan kepala BIN juga tidak terlepas dari agenda besar war culture itu.

    Adanya genderang perang kultur yang disemarakkan sekarang oleh presiden Kokowi menandakan kesadaran tinggi bangsa ini akan tipu muslihat kaum globalis dengan agenda divide et imperanya dari segi kultur. Dengan kesadaran tinggi ini, bangsa ini lebih yakin akan budaya bangsanya sendiri dan kekuatan didalamnya adalah sangat penting dalam mempertahankan survival bangsa ini.
    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: