Skip to toolbar

Kolom Nisa Alwis: SPONGE

0 0
Read Time:2 Minute, 18 Second

Nisa Alwis 14Suatu hari, 3 tahun lalu, saya menemukan coretan pinsil di sudut buku tulis anakku: “Aku benci Yahudi”. Kata-kata itu mengejutkan. Sejak awal kehidupannya, rasanya yang diajarkan banyak nilai-nilai kasih sayang, kegembiraan, kesabaran, hormat, dan tenggang rasa.

Ungkapan kata BENCI ini tentu mengganggu jiwanya yang polos dan sangat muda.

Rupanya ia mulai menanggung risiko sebagai pribadi yang sedang tumbuh dalam dunia kecilnya. Bangku sekolah, tentu membuatnya terekspose pada ruang pergaulan lebih terbuka. Meski baru SD, apa yang ia dengar di lingkungannya sangat mungkin ia serap bagai spons yang lembap. Dan sangat mungkin pula ia sesungguhnya tak begitu mengerti apa yang ia tangkap.

Lalu, saat itu, saya mengajaknya pelan-pelan bicara. Mengurai simpul pikiran, agar tidak telanjur kusut oleh kemelut tak berkesudahan. Seperti banyak terjadi pada orang dewasa kini, mengidap tensi kebencian. Bagaimana ananda tahu Yahudi, apakah karena mendengar cerita tentang Palestina?

anak-anak 4

“Ya, Ma,” ujarnya kala itu sendu.

Saya tahu. Belum lama di sekolahnya memang ada galang dana. Cukup ramai, apalagi dihadiri penyanyi religi.

Hari ini, ia sudah kelas 8. Saya menanyakan ulang catatan yang cukup lama diendapkan. Kaka, bagaimana perasaanmu kalau dengar kata Yahudi?

“Biasa aja,” ungkapnya sambil memoles skateboard kesayangan.

Dia menyukai Nyjah Houston, Skater profesional Amerika. Misalkan Houston seorang Yahudi, gimana, Kak?

I don’t care,” katanya tertawa, tanpa beban apa-apa. Ini bagi saya melegakan.

Lalu, saya sisipkan pesan bahwa yang kita tidak suka adalah kesewenangan dan permusuhan. Di Palestina, konfliknya dengan Israel sebetulnya bukan tentang agama, tapi tentang tanah dan wilayah. Sering meletup terutama di jalur Gaza. Ada gerakan namanya Zionisme. Tidak semua orang Yahudi itu Zionist. Teman mama yang pernah tinggal di sana cerita, wilayah yang rukun, ya rukun. Mereka hidup berdampingan berbagai agama.

Lalu, saya sampaikan dengan sederhana, Islam dalam sejarah agama, adalah adik bungsu dari Kristen dan Yahudi. Banyak nabi-nabinya sama, banyak ajarannya juga sama. Sunat dari Yahudi, begitu pula solat, puasa dan haji. Bahkan alFatihah persis sama dengan teks kitabnya Yahudi. Tuhannya pun sama, dikenalkan oleh nabi Ibrahim. Namanya saja yang berbeda. Syariat detailnya, dan perkembangan sejarahnya yang kemudian juga berbeda.

anak kecil

Jadi, tidak boleh benci. Energi seperti itu jelek sekali. Kita sendiri yang merugi. Bukan cuma soal Yahudi, juga pada Kristen, dan Cina yang kini sering dijadikan isu politik SARA. Sampai-sampai ada yang dipaksa memangkas lambang salibnya. Kita harus lampaui itu semua. Bila beragama membuat kita phobia pada keragaman, itu pertanda salah asuhan. Bila kepercayaan dirimu kuat, tak perlu risau dengan prinsip iman.

Tempuhlah jalanmu, sambil tak lupa bahwa banyak orang yang menempuh jalan berbeda, dan kita semua setara. Sama-sama ingin kehidupan berkah dan bahagia. Pikiran yang tertutup hanya membuat kita sangat terbatas dalam hidup.

Jangan biarkan kebencian pada yang tak seiman bersisa. Apalagi bila mengkristal hingga dewasa. Jika itu terjadi, masalah ada padamu, bukan pada orang di luarmu.

#Lve

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: