Skip to toolbar

Kolom Sri Nanti: NGENOL LAGI

0 0
Read Time:2 Minute, 36 Second

Sejak lama kita sudah sering mendengar nasehat ini, tapi tak pernah kita gubris, “Lebaran itu bukan soal baju baru, korden baru, toples baru, sofa baru, cat rumah baru, mobil baru, makanan enak dan jalan-jalan memenuhi tempat-tempat wisata…” Bukan, bukan tentang semua itu. Tapi soal kesiapan kita untuk kembali kepada kesucian hati.

Berani meminta dan memberi maaf secara tulus dan ikhlas.

Baik lewat tradisi sungkeman ataupun sekedar silaturahmi dengan pelukan dan jabat tangan. Bahkan untuk yang tidak meminta maafpun semuanya harus kita maafkan.

Nahhh… biasanya untuk melengkapi tradisi saling memaafkan itu kita siapkan ruangan yang bersih dan rapi. Pakaian yang bersih dan wangi. Kue dan makanan enak yang menemani obrolan. Istilahnya, hidangan ramah tamahlah.

Jadi, semua itu sifatnya hanya sebagai pelengkap, tidak wajib. Tidak perlu “ngoyo” diada-adakan kalau sebenarnya tidak ada. Tapi banyak yang kemudian lebih mengutamakan pelengkapnya bahkan dibela-belain berhutang. Biar apa sih?

Nggak jelas juga biar apa. Padahal sudah sekian puluh lebaran saya mengamati pergerakan orang-orang yang silaturahmi, nggak kelihatan beda tuh orang yang pakai baju lama dengan yang pakai baju baru beli. Asalkan sama-sama bersih.

Nggak begitu berpengaruh juga suguhan kue atau makanan di meja dengan suasana hangat bersenda gurau saat saling mengunjungi. Bahkan sudah lebih dari sepuluh lebaran terakhir orang nyaris tidak menyentuh kue yang dihidangkan. Yang ada malah sibuk ngobrol, foto-foto dan meramaikan media sosial saja.

Jadi intinya, LEBARAN itu kita semua saling memaafkan. Selesai.

Tapi, apakah yang sudah meminta maaf, dengan jabat tangan atau bahkan sungkem cium tangan sampai keluar air mata berderai-derai itu, benar-benar tulus ikhlas meminta dan memberi maaf? Belum tentu juga.

Buktinya, setelah bertahun-tahun bahkan berkali-kali lebaran dan setiap lebaran selalu maaf-maafan, kesalahan orang lain masih tetap kita ingat dan sering kita ungkit-ungkit.

Padahal seharusnya setiap habis lebaran kita semua mulai lagi dari nol, tidak ada lagi beban sakit hati karena kesalahan siapapun di masa lalu. Semuanya sudah terhapuskan… (Kecuali hutang ya… tetap harus dibayar. Enak aja mau nge-NOL sembarangan).

Jadi gitu ya, kalau Lebaran ini kita tidak mungkin bisa jabat tangan. Tidak mungkin saling mengunjungi untuk makan kue dan makanan enak sambil memakai baju baru, tas baru dan sepatu baru, selfie-selfie cantik, Boomerang-boomerangan manja, live-live yang cetar membahana, dan lain-lain.

Terpenting kita semua siap merendahkan hati untuk meminta maaf dan berani membuka hati seluas-luasnya untuk memberi maaf, mau lewat SMS, WA, Facebook, Line, Twitter, Halal bihalal Virtual… terserah, itu hanya sarana… INTINYA SIAPKAN HATI UNTUK NGENOL LAGI…

Saya sadar betul saya terlalu banyak menulis di Facebook, dan di dalam banyak tulisan itu kemungkinan besar banyak yang merasa tersakiti walaupun sakitnya sambil tertawa.

Untuk itu, saya meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan baik offline maupun online, dan memaafkan siapapun yang pernah “saya anggap” salah. Baik yang merasa maupun tidak merasa pernah menyakiti hati saya. Baik yang sanggup meminta maaf maupun yang tidak sanggup.

Masih ada sisa waktu beberapa hari kalau mau ditambahin lagi kesalahannya. Yang penting habis lebaran kita nge-NOL lagi ya… 😘😘😘😍😍😍

Good morning the sunrise on Java,
Sorry I can’t touch you on Eid this year

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: