Skip to toolbar

Kolom Eko Kuntadhi: MACRON, KARTUN NABI DAN MONSTER PEMBUNUH

0 0
Read Time:3 Minute, 42 Second

Kita membenci intoleransi. Sebab hanya akan mendatangkan kerusakan. Apalagi jika menyangkut agama. Di Perancis, seorang guru dibunuh secara keji. Masalahnya karena ia menunjukan kartun Kanjeng Nabi Muhammad dari sebuah majalah Perancis yang melecehkan. Dulu saat pertama kartun itu diterbitkan, juga terjadi kehobohan.

Bahkan sekelompok radikal menyerang kantor redaksi majalah itu. Membabi buta.

Presiden Macron, tentu saja bereaksi akibat pembunuhan sang guru. Dalam pidatonya ia membela kebebasan berpendapat di negerinya, yang bahkan jika pendapat itu mencela simbol-simbol sakral sebuah keyakinan.

Kita yang waras, pasti gak setuju dengan tindakan brutal yang membunuh guru tersebut Apapun alasannya itu gak bisa dimaklumi.

Tapi, yang juga perlu diingat, tindakan melecehkan simbol sakral sebuan keyakinan, apapun alasannya, juga gak bisa dimaklumi. Kebebasan seperti apa yang akan dihasilkan, jika digunakan saling melukai.

Radikalisme dalam Islam memang menjadi momok dunia saat ini.

Kita bisa bedah sejarahnya. Awalnya ketika AS mau menahan laju Sovyet di Afganistan. Ketimbang harus keluarkan biaya mahal jika mengirimkan tentaranya. AS memilih melatih kaum radikal. Caranya dengan mendoktrin besar-besaran warga Afganistan dengan ajaran Islam dengan tafsir kekerasan. Ajaran itu menemukan bentuk teoritisnya dalam pemahaman Wahabi.

AS sukses. Sovyet berhasil diusir. Tapi ajaran itu makin mengental. Yang tadinya hanya digunakan sebagai penahan ekspansi tentara komunis, justru menjadi ideologi politik sendiri.

Pola yang sama digunakan di Timur Tengah. AS, Saudi, dan kroninya menyebarkan doktrin jihad. Tujuannya membendung ekspansi Iran. Maka di Suriah kita lihat ISIS merajalela. Juga di Libya dan Irak.

Srigala haus darah bertopeng agama ini menjadi mesin membunuh yang canggih dan bengis. Sialnya, ketika srigala itu dilepaskan, ia gak lagi nurut sama pemiliknya. Srigala itu mencari bentuk sendiri. Ajarannya meresap ke berbagai masyarakat Islam.

Sampai juga ke Indonesia.

Akibatnya, para srigala itu terus mencari mangsa. Memuaskan doktrin jihad buatan AS dan sekutunya. Bahkan kini sudah berubah menjadi monster. Mensasar kepentingan siapa saja.

Monster menakutkan itu menjadi masalah besar di dunia. Ia bisa membelah diri. Menyesuaikan dengan berbagai keadaan. Lalu menyebar bagai kutu busuk.

Mereka memang monster. Tapi monster tidak akan membesar jika tidak dipicu. Saat Sovyet menyerang Afganistan, diajarkan bahwa melawan komunis dan kafir adalah jihad. Dari sanalah kita mulai mengenal bom bunuh diri. Jihad dianggap sebagai mempersembahkan kematian untuk membela keyakinan agama. Tapi kali ini musuhnya adalah tentara Sovyet.

Setelah itu para mosnter terus ketagihan jihad. Maka seluruh dunia kita menghadapi keberingasan mereka.

Satu-satunya cara agar monster seperti itu tidak tumbuh adalah dengan terus memompa toleransi. Jangan biarkan semangat jihad yang keliru menemukan momentumnya, ketika intoleransi ditampakkan. Ketika pertunjukan intoleransi didemonstrasikan. Ketika simbol-simbol sakral dilecehkan.

Salah satu doktrin agar orang terjebak dalam jihad konyol adalah bahwa Islam sedang dijajah. Sedang dipinggirkan. Sedang dilecehkan. Sedang diperlakukan tidak adil. Karena itu harus dibela dengan darah dan nyawa.

Mati dalam membela agama akan masuk surga.

Soal benarkah asumsi dasar bahwa Islam sedang dilecehkan, itu tidak penting. Manipulasi saja seolah benar terjadi. Itu akan mampu menciptakan monster yang irasional. Ganas dan mengerikan.

Inilah satu persoalan di Perancis. Yang menjunjung kebabasan berpendapat. Ketika kebabasan itu merangsek simbol-simbol sakral sebuah agama. Akibatnya membangunkan monster tadi. Kasus guru yang dibunuh adalah salah satu bukti.

Jadi, ketika Macron malah membela kebebasan negerinya, dengan membiarkan simbol sakral Kanjeng Nabi dilecehkan, ia hanya menaruh bensin di atas bara. Ia mengipasi api yang bisa saja membesar.

Itulah mengapa saya sangat tidak setuju dengan kebebasan berpendat jika itu harus merangsek simbol-simbol sakral sebuah keyakinan.

Saat Rizieq pernah mencela proses kelahiran Jesus, saya juga sangat marah. Saya melawan pelecehan itu sekuat-kuatnya. Sebisa-bisanya. Omongan Rizieq tidak menghasilkan apa-apa selain api kebencian di masyarakat.

Sama saat saya tidak setuju Macron membela beredarnya kartun Kanjeng Nabi yang melecehkan itu. Bagi saya, tindakan Macron tidak ada manfaatnya buat Perancis. Ia hanya memancing lahirnya kekerasan baru. Lahirnya monster baru.

Bagi saya, monster harus diberangus. Potensi tumbuhnya harus dipangkas.

Caranya? Dengan menumbuhkan toleransi. Jangan pernah merusak simbol-simbol sakral sebuah keyakinan apalagi tujuannya hanya untuk menistakan. Percayalah. Itu hanya jadi bahan dasar lahirnya monster baru.

Saya mengecam keras pembunuhan keji guru di Perancis. Saya juga mengecam pelecehan Kanjeng Nabi. Fenomena keduanya berkelindan. Mulailah melihat lebih objektif.

Kita duduk-dudukan satu-satu kasusnya. Terorisme adalah musuh kemanusiaan. Melecehkan simbol sakral, adalah pupuk yang menumbuhkan orang menjadi monster yang akan menjadi musuh kemanusiaan.

Kadang hidup hanya membutuhkan sebuah kearifan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Eko Kuntadhi: MACRON, KARTUN NABI DAN MONSTER PEMBUNUH

  1. MACRON DALAM KONTRADIKSI UTAMA DUNIA
    Presiden Trump maupun presiden Macron sudah punya tempat masing-masing dalam polarisasi dunia. Kedua tempat itu saling bertentangan, sama halnya dengan Trump kontra Biden dalam polarisasi AS.

    “Jadi saya memahami dan menghormati bahwa orang-orang terkejut dengan kartun ini, tetapi saya tidak akan pernah menerima bahwa seseorang dapat membenarkan kekerasan fisik karena kartun ini, dan saya akan selalu membela kebebasan di negara saya untuk menulis, berpikir, menggambar,” kata Macron, menurut transkrip wawancara yang dirilis oleh kantornya, seperti dikutip Antara dari Reuters, Sabtu (31/10). “Kebebasan seperti apa yang akan dihasilkan, jika digunakan saling melukai.”- EK di Sorasirulo.com. Macron dimana posisinya?

    Dia (Macron) tidak setuju melukai secara fisik, seperti menikam guru sampai mati. Tetapi tidak menentang melukai secara moral/perasaan. Dia katakan, tulislah terus, pikir dan gambarlah terus secara bebas, nabi atau apapun, demi untuk cita-cita sakral Prancis Macron mempertahankan kebebasan berbicara. Macron sengaja melupakan dialektika klasik KEBEBASAN yaitu kebebasan harus selalu diikuti dengan TANGGUNG-JAWAB. Itulah pengertian klasik kebebasan, sudah lama lahir, 8000 tahun, sejak adanya sivilisasi. Sivilisasi tidak akan survive sampai ke era kita sekarang ini kalau sejak semula sudah tidak ada tanggung-jawab dalam kebebasan. Karena itu bisa dipastikan bahwa kemanusiaan lahir bersamaan dengan kebebasan dan tanggung-jawabnya sebagai dasar utama yang memungkinkan kelanjutan peradabannya.

    Tetapi mengapa presiden Macron berani menentang dan menantang prinsip dasar sivilisasi ini?
    “The conspiratorial groups know no boundaries, are above the laws of every countries and control every aspect of politics, banking and commerce. They have been pulling the strings of governments, corporations and even movements they’ve created to further their aspirations of world domination.” dalam buku “The New World Order: Moral Doctrines” – 2017 by Esteban Garcia.

    Siapa yang ‘pulling the strings’ di Perancis Macron? ha ha, semua bisa jawab tentu, NWO itu atau “The conspiratorial groups” itu, yang oleh Wakil Kepala BSSN Komjen Dharma Pongrekun sebut ‘rezim globalis’, atau Trump sebut ‘The Global Power Structue’ atau terakhir ‘Deep State’.

    Dan mengenai finans dan moral gerombolan berkuasa ini dibilang oleh Trump begini: “Their financial resources are unlimited”. Tidak diragukan bahwa ini yang memungkinkan sumber KEKUASAAN mereka juga tidak terbatas, karena duit itu. Trump menambahkan soal moralnya: “And most importantly the depths of their immorality is absolutely unlimited”. Bagi kita orang Indonesia ada contoh konkretnya, 1965! Moral Macron sebagai bagian tak terpisahkan dari kekuasaan besar bejat ini tentu tidak diragukan dalam kenyataan dan prakteknya. Itulah Macron.

    Hari ini 3 November 2020, Pilpres AS. Hari Penentuan KONTRADIKSI UTAMA DUNIA, akan menentukan nasib rakyat-rakyat dunia dengan negeri nasionalnya masing-masing. Polarisasi total di AS membikin tidak pasti siapa yang akan menang dalam pilpres itu. Trump sudah berulang menyatakan kalau kecurangan dalam pilpres pasti terjadi karena pemilihan lewat post itu. Karena itu dia sudah persiapkan untuk bertahan, mempertahankan kekuasaan nasionalis AS yang akan mempengaruhi nasib kekuasaan nasional semua negeri dunia. Dia sudah persiapkan Pengadilan Tertinggi dengan dominasi partai Republik di Doj dan Senat. Pilpres ini ‘physically dangerous’ katanya kemarin sehari sebelum pilpres. Dia sepertinya sudah siap mempertahankan kekuasaan dengan kekerasan, civil war. American militia dengan persenjataan lengkap, QAnon movement + fifti-fifti dalam polarisasi (50% rakyat) sudah siap untuk dikerahkan. Trump benar, kekuasaan curang dan buas The Global Power Structure yang sudah bertakhta lebih dari 200 tahun itu agaknya memang tidak mungkin dikalahkan dengan pemilihan biasa!
    Maju terus perjuangan nasional AS dan bangsa-bangsa dunia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: